makalah kebakaran hutan

| Selasa, 25 Desember 2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink), habitat hewan, modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfer Bumi yang paling penting.
Indonesia sebagai salah satu Negara yang memiliki sumber daya hutan terbesar kedua sedunia ini merupakan paru-paru dunia. Lebih kurang 4000 jenis tumbuhan yang tumbuh pada berbagai formasi hutan dan tipe hutan telah diketahui (terutama di Hutan Hujan Tropis) dan sekitar 400 jenis pohon telah diketahui nilai komersial kayunya.
Kebakaran merupakan salah satu fenomea yang menggangu aktivitas manusia, baik dari segi ekologi, sosial, budaya, ekonomi maupun kerusakkan lingkungan dan lain-lain. Hanya saja wawasan masyarakat akan pentingnya pengetahuan penyebab, dampak, proses, pencegahan dan penanggulangan dinilai masih cukup kurang bahkan tidak ada rasa kepedulian sama sekali. Walaupun sudah diteapkan peraturan dan perundangan tentang kehutanan (UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN) tetap saja masyarakat belum mengetahui isi keseluruhan peraturan tersebut.
Berawal dari masalah tersebut penyusunan makalah  ini dissun dan dipublikasikan. Agar masyarakat lebih mengetahui dengan cara sosialisasi seputar kebakaran hutan. Karena dengan cara tersebut kebakaran hutan dapat dicegah.

1.2 Landasan Teori

A. Jenis Hutan Di Indonesia
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki hutan yang luas di dunia. Luas hutan tersebut dulu mencapai 113 juta hektar dan terus berkurang drastis akibat kebodohan oknum pemerintah dan penjahat yang selalu haus uang dengan membabat dan menggunduli hutan demi mendapat keuntungan yang besar tanpa melihat dampak bagi lingkungan global.
Berikut di bawah ini adalah pembagian macam-macam atau jenis-jenis hutan yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia disertai arti definisi dan pengertian :
1.      Hutan Bakau
Hutan bakau adalah hutan yang tumbuh di daerah pantai berlumpur. Contoh : pantai timur kalimantan, pantai selatan cilacap, dll.
2.      Hutan Sabana
Hutan sabana adalah hutan padang rumput yang luas dengan jumlah pohon yang sangat sedikit dengan curah hujan yang rendah. Contoh : Nusa tenggara.
3.      Hutan Rawa
Hutan rawa adalah hutan yang berada di daerah berawa dengan tumbuhan nipah tumbuh di hutan rawa. Contoh : Papua selatan, Kalimantan, dsb.
4.      Hutan Hujan Tropis
Hutan hujan tropis adalah hutan lebat atau hutan rimba belantara yang tumbuh di sekitar garis khatulistiwa (ekuator) yang memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Hutan jenis yang satu ini memiliki tingkat kelembapan yang tinggi, bertanah subur, humus tinggi dan basah serta sulit untuk dimasuki oleh manusia. Hutan ini sangat disukai pembalak hutan liar dan juga pembalak legal jahat yang senang merusak hutan dan merugikan negara trilyunan rupiah. Contoh : hutan kalimantan, hutan sumatera, dsb.
5.      Hutan Musim
Hutan musim adalah hutan dengan curah hujan tinggi namun punya periode musim kemarau yang panjang yang menggugurkan daun di kala kemarau menyelimuti hutan.
Di samping itu hutan terbagi atau dibagi berdasarkan fungsinya, yaitu :
1.      Hutan Wisata
Hutan wisata adalah hutan yang dijadikan suaka alam yang ditujukan untuk melindungi tumbuh-tumbuhan serta hewan / binatang langka agar tidak musnah / punah di masa depan. Hutan suaka alam dilarang untuk ditebang dan diganggu dialih fungsi sebagai buka hutan. Biasanya hutan wisata menjadi tempat rekreasi orang dan tempat penelitian.

2.      Hutan Cadangan
Hutan cadangan merupakan hutan yang dijadikan sebagai lahan pertanian dan pemukiman penduduk. Di pulau jawa terdapat sekitar 20 juta hektar hutan cadangan.

3.      Hutan Lindung
Hutan lindung adalah hutan yang difungsikan sebagai penjaga ketaraturan air dalam tanah (fungsi hidrolisis), menjaga tanah agar tidak terjadi erosi serta untuk mengatur iklim (fungsi klimatologis) sebagai penanggulang pencematan udara seperti CO2(karbon dioksida) dan CO (karbon monoksida). Hutan lindung sangat dilindungi dari perusakan penebangan hutan membabibuta yang umumnya terdapat di sekitar lereng dan bibir pantai.

4.      Hutan Produksi atau Hutan Industri
Hutan produksi yaitu adalah hutan yang dapat dikelola untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi. Hutan produksi dapat dikategorikan menjadi dua golongan yakni hutan rimba dan hutan budidaya. Hutan rimba adalah hutan yang alami sedangkan hutan budidaya adalah hutan yang sengaja dikelola manusia yang biasanya terdiri dari satu jenis tanaman saja. Hutan rimba yang diusahakan manusia harus menebang pohon denga sistem tebang pilih dengan memilih pohon yang cukup umur dan ukuran saja agar yang masih kecil tidak ikut rusak.

B. Fungsi Hutan Di Indonesia

     Hutan berfungsi sebagai: penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink) karbondioksida diketahui sebagai salah satu gas yang dapat menyebabkan efek rumah kaca. Karbondioksida dihasilkan dari hasil pernapasan makhluk hidup, dalam hal ini manusia dan hewan, dan dari sisa buangan industri dan kendaraan bermotor.
Lain halnya dengan tumbuhan dan pepohonan. Tumbuhan dan pepohonan memerlukan gas karbondioksida untuk dapat hidup. Fungsi hutan sebagai penampung karbondioksida ini erat kaitannya dengan keberadaan tumbuhan dan pepohonan di tempat tersebut. Seperti yang telah kita ketahui bersama pohon dan tumbuhan akan mengkonversi gas karbondioksida menjadi gas oksigen melalui proses fotosintesis. Gas oksigen diketahui sebagai gas yang sangat diperlukan oleh manusia untuk melangsungkan hidupnya.
Reaksi konversi gas karbon dioksida menjadi gas oksigen adalah sebagai berikut :
12 H2O + 6 CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6 O2 + 6 H2O
Pada hasil reaksi terdapat glukosa yang digunakan oleh tumbuhan dan pohon sebagai energi untuk tumbuh dan berkembang. Proses fotosintesis ini berlangsung pada daun dari tumbuhan dan pepohonan. Laju fotosintesis ini dipengaruhi dari luas permukaan dari daun tumbuhan dan pepohonan. Semakin luas permukaan daun, semakin tinggi laju fotosintesis yang berarti semakin tinggi laju penyerapan gas karbondioksida.

·        habitat hewan

Habitat adalah tempat suatu makhluk hidup tinggal dan berkembang biak. Pada dasarnya, habitat adalah lingkungan paling tidak lingkungan fisiknya di sekeliling populasi suatu spesies yang mempengaruhi dan dimanfaatkan oleh spesies tersebut. Menurut Clements dan Shelford (1939), habitat adalah lingkungan fisik yang ada di sekitar suatu spesies, atau populasi spesies, atau kelompok spesies, atau komunitas. Hutan merupakan salah satu contoh habitat hewan.
·                 modulator arus hidrologika

siklus atau arus hidrologika adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi.
Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologika tersebut dapat berjalan secara kontinu.
Fungsi dari hutan dalam arus hidrologika ini sendiri adalah sebagai modulator, yaitu salah satu tempat pemodifikasian dari uap air ke air begitu seterusnya tidak berhenti. Dan jika arusnya dihentikan dengan terbakarnya hutan dapat mengganggu siklus atau arus tersebut.
·                 pelestari tanah
Terjadinya bencana tanah longsor dan banjir menunjukkan peristiwa yang berkaitan dengan masalah tanah. Banjir telah menyebabkan pengikisan lapisan tanah oleh aliran air yang disebut erosi yang berdampak pada hilangnya kesuburan tanah serta terkikisnya lapisan tanah dari permukaan bumi. Tanah longsor disebabkan karena tak ada lagi unsur yang menahan lapisan tanah pada tempatnya sehingga menimbulkan kerusakan.
Akar-akar dari pohon di hutan berfungsi sebagai unsur yang menahan lapisan tanah pada tempatnya. Sehingga peristiwa seperti diatas tidak terjadi.
·   merupakan salah satu aspek biosfer Bumi yang paling penting
Biosfer adalah bagian luar dari planet Bumi, mencakup udara, daratan, danair, yang memungkinkan kehidupan dan proses biotik berlangsung. Dalam pengertian luas menurut geofisiologi, biosfer adalah sistem ekologis global yang menyatukan seluruh makhluk hidup dan hubungan antarmereka, termasuk interaksinya dengan unsur litosfer (batuan), hidrosfer (air), dan atmosfer (udara) Bumi. Bumi hingga sekarang adalah satu-satunya tempat yang diketahui yang mendukung kehidupan. Salah satu contoh biosfer yang paling penting adalah hutan.

C. Pengertian Kebakaran Hutan

Kebakaran liar, atau juga kebakaran hutan, kebakaran vegetasi, kebakaran rumput, atau kebakaran semak, adalah sebuah kebakaran yang terjadi di alam liar, tetapi dapat juga memusnahkan rumah-rumah atau sumber daya pertanian. Penyebab umum termasuk petir,kecerobohan manusia, dan pembakaran.
Musim kemarau dan pencegahan kebakaran hutan kecil adalah penyebab utama kebakaran hutan besar.
Kebakaran hutan dalam bahasa Inggris berarti "api liar" yang berasal dari sebuah sinonimdari Api Yunani, sebuah bahan seperti-napalm yang digunakan di Eropa Pertengahan sebagai senjata maritim.

D. Jenis Kebakaran Hutan

Jenis Kebakaran Hutan dikategorikan menjadi tiga tipe, yaitu Surface Fire, Crown Fire dan Ground Fire. Atau dapat diuraikan sebagai berikut:

Surface Fire
Api dapat membakar hutan terutama di permukaan, menyebar melalui  serasah, ranting dan rumput kering di sepanjang permukaan tanah dan ditelan oleh api yang menyebar.

Crown Fire
Jenis lain kebakaran hutan adalah Crown Fire di mana mahkota pohon dan semak terbakar, seringkali ditopang oleh api permukaan. Api mahkota terutama sangat berbahaya di hutan jenis konifera karena bahan resinous diberikan dari pembakaran kayu membakar marah. Pada lereng bukit, jika api mulai menurun, menyebar dengan cepat seperti udara dipanaskan berdekatan dengan lereng cenderung mengalir ke atas lereng penyebaran api bersama dengan itu. Jika api mulai menanjak, ada kemungkinan kurang dari itu menyebar ke bawah.

Ground Fire
kebakaran pemukaan dimana api membakar bahan bakar yang ada di atas permukaan, kemudian api menyebar tidak menentu secara perlahan dibawah permukaan

E. Proses Terjadinya Kebakaran Hutan

     Kebakaran hutan dan lahan gambut merupakan kebakaran pemukaan dimana api membakar bahan bakar yang ada di atas permukaan, kemudian api menyebar tidak menentu secara perlahan dibawah permukaan, membakar bahan organik melalui pori-pori gambut dan melalui akar semak belukar/pohon yang bagian atasnya terbakar. Dalam perkembangannya, api menjalar secara vertical dan horizontal membentuk kantong asap dengan pembakaran tidak menyala (soldering) sehingga hanya asap yang berwarna putih saja yang tampak di atas permukaan. Mengingat peristiwa kebakaran terjadinya didalam tanah dan hanya asapnya saja yang muncul ke permukaan, maka kegiatan pemadaman akan mengalami banyak kesulitan.








BAB II
PENYEBAB DAN AKIBAT TERJADINYA KEBAKARAN HUTAN


2.1 Penyebab Terjadinya Kebakaran Hutan

Penyebab kebakaran hutan dibagi menjadi dua faktor, yaitu faktor alam dan faktor ulah tangan dan kecerobohan manusia. Dapat diuraikan sebagai berikut:
A.    Faktor Alam
         Sambaran petir 
petir memiliki energi yang berubah menjadi percikan api yang apabila terkena pada dedaunan dan kayu kering dapat menimbulkan titik api yang lebih besar.
·        benturan longsuran batu
Satu batu dengan batu lainnya apabila bergesekkan akan menimbulkan energi yang dapat berubah menjadi oercikan api yang sproses selanjutnya sama seperti di atas.
·                     singkapan batu bara
Batubara merupakan salah satu bahan bakar, apabila iklim suhu terlalu tinggi dapat membakar batu bara dengan sendirinya.
·                     tumpukan daun kering
Sama seperti hal di atas.
·                     fenomena iklim El-Nino
El Nino adalah fenomena alam dan bukan badai, secara ilmiah diartikan dengan meningkatnya suhu muka laut di sekitar Pasifik Tengah dan Timur sepanjang ekuator dari nilai rata-ratanya dan secara fisik El Nino tidak dapat dilihat.  Fenomena El Nino menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang, tingkat berkurangnya curah hujan ini sangat tergantung dari intensitas El Nino tersebut. Namun karena posisi geografis Indonesia yang dikenal sebagai benua maritim, maka tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena El Nino.
El Nino pernah menimbulkan kekeringan panjang di Indonesia. Curah hujan berkurang dan keadaan bertambah menjadi lebih buruk dengan meluasnya kebakaran hutan dan asap yang ditimbulkannya.
·                     dll.
B.     Faktor Ulah Tangan Dan Kecerobohan Manusia
•     Sistem perladangan tradisional dari penduduk setempat yang berpindah-pindah.
Perladangan berpindah merupakan upaya pertanian tradisional di kawasan hutan dimana pembukaan lahannya selalu dilakukan dengan cara pembakaran karena cepat, murah dan praktis. Namun pembukaan lahan untuk perladangan tersebut umumnya sangat terbatas dan terkendali karena telah mengikuti aturan turun temurun (Dove, 1988). Kebakaran liar mungkin terjadi karena kegiatan perladangan hanya sebagai kamuflasa dari penebang liar yang memanfaatkan jalan HPH dan berada di kawasan HPH.
•     Pembukaan hutan oleh para pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk insdustri kayu maupun perkebunan kelapa sawit.
Pembukaan hutan oleh pemegang HPH dan perusahaan perkebunan untuk pengembangan tanaman industri dan perkebunan umumnya mencakup areal yang cukup luas. Metoda pembukaan lahan dengan cara tebang habis dan pembakaran merupakan alternatif pembukaan lahan yang paling murah, mudah dan cepat. Namun metoda ini sering berakibat kebakaran tidak hanya terbatas pada areal yang disiapkan untuk pengembangan tanaman industri atau perkebunan, tetapi meluas ke hutan lindung, hutan produksi dan lahan lainnya. 
•     Kecerobohan dengan merokok dan membuang puntung rokok di hutan.
Sikap waspada di hutan dengan tidak menyalakan sumber api sembarangan sangat di perlukan, karena menghindari terjadinya sambaran api dari sumber api ke dedaunan atau kayu kering yang ada dihutan.
•     Membiarkan bara api setelah berkemah, dll.
Bara api yang tidak dipadamkan secara benar-benar padam dapat tertiup udara bebas dan akhirnya menimbulkan nyala api yang lebih besar dan menyambar ke dedaunan atau kayu kering yang ada dihutan.

2.2 Akibat Terjadinya Kebakaran Hutan

Dampak atau akibat terjadinya kebakaran hutan dikategorikan menjadi empat faktor yaitu:
A.       Dampak Terhadap Ekologis dan Kerusakan Lingkungan
·           Tercemarnya udara, oleh gas CO dan CO2.
Reaksi oksidasi  yang terjadi pada proses pembakaran zat organik pada kayu atau daun kering akan menghasilkan gas CO dan CO2,terutama gas CO2 yang akan membuat suhu bumi meningkat.
·           Hilangnya sejumlah spesies flora & fauna,
Kebakaran bukan hanya meluluh lantakkan berjenis-jenis pohon namun juga menghancurkan berbagai jenis habitat satwa lainnya. Umumnya satwa yang ikut musnah ini akibat terperangkap oleh asap dan sulitnya jalan keluar karena api telah mengepung dari segala penjuru. Belum ada penelitian yang mendalam seberapa banyak spesies yang ikut tebakar dalam kebakaran hutan diIndonesia.
·           Ancaman erosi
Kebakaran yang terjadi di lereng-lereng pegunungan ataupun di dataran tinggi akan memusnahkan sejumlah tanaman yang juga berfungsi menahan laju tanah pada lapisan atas untuk tidak terjadi erosi. Pada saat hujan turun dan ketika run off terjadi, ketiadaan akar tanah - akibat terbakar - sebagai pengikat akan menyebabkan tanah ikut terbawa oleh hujan ke bawah yang pada akhirnya potensial sekali menimbulkan bukan hanya erosi tetapi juga longsor.
·           Perubahan fungsi pemanfaatan dan peruntukan lahan,
Hutan sebelum terbakar secara otomatis memiliki banyak fungsi. Sebagai catchment area, penyaring karbondioksida maupun sebagai mata rantai dari suatu ekosistem yang lebih besar yang menjaga keseimbangan planet bumi. Ketika hutan tersebut terbakar fungsi catchment area tersebut juga hilang dan karbondioksida tidak lagi disaring namun melayang-layang diudara. Dalam suatu ekosistem besar, panas matahari tidak dapat terserap dengan baik karena hilangnya fungsi serapan dari hutan yang telah terbakar tersebut.
Hutan itu sendiri mengalami perubahan peruntukkan menjadi lahan-lahan perkebunan dan kalaupun tidak maka ia akan menjadi padang ilalang yang akan membutuhkan waktu lama untuk kembali pada fungsinya semula.
·           Penurunan kualitas air,
Kebakaran hutan memang tidak secara signifikan menyebabkan perubahan kualitas air. Kualitas air yang berubah ini lebih diakibatkan faktor erosi yang muncul di bagian hulu. Ketika air hujan tidak lagi memiliki penghalang dalam menahan lajunya maka ia akan membawa seluruh butir tanah yang ada di atasnya untuk masuk kedalam sungai-sungai yang ada. Akibatnya adalah sungai menjadi sedikit keruh. Hal ini akan terus berulang apabila ada hujan di atas gunung ataupun di hulu sungai sana.
·           Terganggunya ekosistem terumbu karang,
Terganggunya ekosistem terumbu karang lebih disebabkan faktor asap. Tebalnya asap menyebabkan matahari sulit untuk menembus dalamnya lautan. Pada akhirnya hal ini akan membuat terumbu karang dan beberapa spesies lainnya menjadi sedikit terhalang untuk melakukan fotosintesa.
·           Sedimentasi di aliran sungai.
Tebalnya lumpur yang terbawa erosi akan mengalami pengendapan di bagian hilir sungai. Ancaman yang muncul adalah meluapnya sungai bersangkutan akibat erosis yang terus menerus.

B.       Dampak Terhadap Sosial, Budaya dan Ekonomi

Hilangnya sejumlah mata pencaharian masyarakat yang tinggal di pinggiran dan sekitar hutan, Sejumlah masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya dari hasil hutan tidak mampu melakukan aktivitasnya. Asap yang ditimbulkan dari kebakaran tersebut sedikit banyak mengganggu aktivitasnya yang secara otomatis juga ikut mempengaruhi penghasilannya. Setelah kebakaran usaipun dipastikan bahwa masyarakat kehilangan sejumlah areal dimana ia biasa mengambil hasil hutan tersebut seperti rotan, karet dsb.
          Terganggunya aktivitas sehari-hari, 
Adanya gangguan asap secara otomatis juga mengganggu aktivitas yang dilakukan manusia sehari-hari. Misalnya pada pagi hari sebagianorang tidak dapat melaksanakan aktivitasnya karena sulitnya sinar matahari menembus udara yang penuh dengan asap. Demikian pula terhadap banyak aktivoitas yang menuntut manusia untuk berada di luar ruangan. Adanya gangguan asap akan mengurangi intensitas dirinya untuk berada di luar ruangan.
·           Peningkatan jumlah hama,
Sejumlah spesies dikatakan sebagai hama bila keberadaan dan aktivitasnya mengganggu proses produksi manusia. Bila tidak “mencampuri” urusan produksi manusia maka ia akan tetap menjadi spesies sebagaimana spesies yang lain.
Sejumlah spesies yang potensial untuk menjadi hama tersebut selama ini berada di hutan dan melakukan interaksi dengan lingkungannya membentuk rantai kehidupan. Kebakaran yang terjadi justru memaksanya terlempar dari rantai ekosistem tersebut. Dan dalam beberapa kasus ‘ia’ masuk dalam komunitas manusia dan berubah fungsi menjadi hama dengan merusak proses produksi manusia yang ia tumpangi atau dilaluinya.

Hama itu sendiri tidak harus berbentuk kecil. Gajah dan beberapa binatang bertubuh besar lainnya ‘harus’ memorakmorandakan kawasan yang dilaluinya dalam upaya menyelamatkan diri dan dalam upaya menemukan habitat barunya karena habitat lamanya telah musnah terbakar.
·           Terganggunya kesehatan masyarakat (karena asapnya),
Peningkatan jumlah asap secara signifikan menjadi penyebab utama munculnya penyakit ISPA atau Infeksi Saluran Pernafasan. Gejalanya bisa ditandai dengan rasa sesak di dada dan mata agak berair. Untuk Riau kasus yang paling sering terjadi menimpa di daerah Kerinci, Kabupaten Pelalawan (dulu Kabupaten Kampar) dan bahkan di Pekanbaru sendiri lebih dari 200orang harus dirawat di rumah sakit akibat asap tersebut.
·           Produktivitas masyarakat menurun,
Munculnya asap juga menghalangi produktivitas manusia. Walaupun kita bisa keluar dengan menggunakan masker tetapi sinar matahari dipagi hari tidak mampu menembus ketebalan asap yang ada. Secara otomatis waktu kerja seseorangpun berkurang karena ia harus menunggu sedikit lama agar matahari mampu memberikan sinar terangnya.
Ketebalan asap juga memaksa orang menggunakan masker yang sedikit banyak mengganggu aktivitasnya sehari-hari.
·           Menurunnya devisa negara.
Turunnya produktivitas secara otomatis mempengaruhi perekonomian mikro yang pada akhirnya turut mempengaruhi pendapatan negara.
C.       Dampak Terhadap Hubungan Antar Negara
Asap yang ditimbulkan dari kebakaran tersebut sayangnya tidak mengenal batas administratif. Asap tersebut justru terbawa angin ke negara tetangga sehingga sebagian negara tetangga ikut menghirup asap yang ditimbulkan dari kebakaran di negara Indonesia. Akibatnya adalah hubungan antara negara menjadi terganggu dengan munculnya protes keras dari Malaysia dan Singapura kepada Indonesia agar kita bisa secepatnya melokalisir kebakaran hutan agar asap yang ditimbulkannya tidak semakin tebal.
Yang menarik, justru akibat munculnya protes dari tetangga inilah pemerintah Indonesia seperti kebakaran jenggot dengan menyibukkan diri dan berubah fungsi sebagai barisan pemadam kebakaran. Hilangnya sejumlah spesies dan berbagai dampak yang ditimbulkan ternyata kalah penting dibanding jeweran dari tetangga.
D.       Dampak terhadap Perhubungan dan Pariwisata
Tebalnya asap juga mengganggu transportasi udara. Sering sekali terdengar sebuah pesawat tidak bisa turun di satu tempat karena tebalnya asap yang melingkungi tempat tersebut. Sudah tentu hal ini akan mengganggu bisnis pariwisata karena keengganan wisatawan untuk berada di tempat yang dipenuhi asap.





BAB III
PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN HUTAN


3.1  Pencegahan Kebakaran Hutan

3.1.1        Sosialisasi kepada masyarakat  tentang pengelolaan hutan yang lebih baik.
Sosialisasi merupakan media yang baik bagi masyarakat, karena dengan adanya sosialisasi bagaimana cara mengelola hutan yang baik, cara menindaklanjuti jika terjadi kebakaran hutan, mulai dari pengenalan, proses pengelolahan, dan pencapaian hasil

3.1.2        Memperkecil jumlah titik api
Suatu kebakaran dapat terjadi karena adanya titik api yang di area hutan. Dengan adaya gas oksigen dan alat yang mudah terbakar membantu berkembangnya api. Api yang bermula hanya titik atau berupa sumber dengan adanya faktor pendukung maka terjadilah kobaran api yang besar.

3.1.3        Mengembangkan sistem peringatan dini (early warning system)
Pemberitahuan kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinnya kebakaran hutan, atau untuk mencegah agar tidak terjadi kebakaran hutan perlu diberikan peringatan dan aturan-aturan yang berkaitan dengan penyebab kebakaran hutan dan dampak bagi masyarakat sekitar.

3.1.4        Membangun satuan-satuan pemadam kebakaran hutan (brigade kebakaran) di tiap daerah yang rawan gangguan kebakaran hutan dengan dukungan dana, sarana dan prasarana yang memadai.
3.1.5         Mengadakan kampanye penanggulangan kebakaran hutan.




3.2  Penanggulangan Kebakaran Hutan

Pembangunan jejaring kerja antar daerah dalam upaya penanggulangan kebakaran hutan yang efektif dan sinergis.
Dalam jangka panjang penanggulangan kebakaran hutan dilaksanakan dengan membangun kelembagaan daerah dengan dukungan pusat yang melibatkan peran aktif masyarakat di dalam dan sekitar hutan.
Melakukan rehabilitasi dan penghijauan

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Kebakaran hutan di Indonesia  disebakan faktor alam : sambaran petir,  tumpukan srasahan, iklim El-Nino
Sedang  faktor ulah tangan /kecerobohan manusia : sistem perladangan tradisional dari penduduk yang berpindah-pindah, Pembukaan hutan oleh pemegang HPH untuk insdustri kayu/ perkebunan kelapa sawit, membuang puntung rokok di hutan, membiarkan bara api setelah berkemah.
dampak negatif  kebakaran terhadap ekologis ; sosial, budaya dan ekonomi; hubungan antar negara; perhubungan dan pariwisata.
Pencegahan kebakaran hutan : sosialisasi  pengelolaan hutan yang baik, memperkecil jumlah titik api, mengembangkan sistem peringatan dini ,  membangun  brigade kebakaran di tiap daerah  rawan  kebakaran, mengadakan kampanye penanggulangan kebakaran hutan
Penanggulan terhadap kebakaran hutan : pembangunan jejaring kerja antar daerah dalam upaya penanggulangan kebakaran hutan yang efektif dan sinergis, membangun kelembagaan daerah dengan dukungan pusat yang melibatkan peran aktif masyarakat di dalam dan sekitar hutan, Melakukan rehabilitasi dan penghijauan
·         Intensitas kebakaran hutan di Indonesia menurun akibat curah hujan yang meningkat (Replubika, 2010).

4.2 Saran

Perbanyaklah pengetahuan seputar dampak dan penyebab terjadinya kebakaran hutan.
Cegahlah kebakaran hutan dengan cara sosialisasi tentang kebakaran hutan, intruksikan pada pemerintah daerah untuk membangun satuan pemadam, bersikap waspada dalam menyalakan sumber api di hutan, dll.
·         Jika terjadi kebakaran tetap tenang, dan lakukanlah penanganan awal dengan cara menghubungi pihak yang berwenang menangani


DAFTAR PUSTAKA

http://air.bappenas.go.id/main/doc/pdf/yang_telah_disahkan/UU_41_1999_KEHUTAAN.html
http://indonesianforest.com/frameset.php
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/lingkungan/10/11/04/144702-luas-kebakaran-hutan-di-indonesia-menurun

0 komentar:

Poskan Komentar

Next
▲Top▲